MEMACU KREATIFITAS

BERSAMA EM@12 TUBAN

MEMACU KREATIFITAS

BERSAMA EM@12 TUBAN

MEMACU KREATIFITAS

BERSAMA EM@12 TUBAN

MEMACU KREATIFITAS

BERSAMA EM@12 TUBAN

MEMACU KREATIFITAS

BERSAMA EM@12 TUBAN

Tampilkan postingan dengan label Elektronika Industri Kelas X. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Elektronika Industri Kelas X. Tampilkan semua postingan

Teknik Membuat PCB

20160521_113524
Penyebab saya bisa move on pakai setrika, sablon, dll…ini real nyata..dan mudah diterapkan dengan sekali tetesan autan..:)
Membuat rangkaian PCB sendiri secara konvensional memang membutuhkan kesabaran dan ketelitian. Memang banyak rangkaian yang sudah jadi, yang dijual ditoko elektronik. Biasanya rangkaian tersebut buatan dari pabrik industri percetakan PCB. Arti PCB adalah Printed Circuit Board. Memang mudah menyebut  PCB daripada papan elektronik Jadi.
Banyak artikel yang memuat bagaimana cara membuat PCB. Dari cara yang paling mudah sampai rumit. Yang paling mudah tentunya banyak juga kekurangannya. Namun semua itu bisa diatasi. Dalam artikel ini saya akan menceritakan bagaimana cara membuat papan PCB yang mudah dan biaya murah. Dengan metode paper to paper.
Metode paper to paper merupakan metode cetak print kemudian cetakan tersebut di copy ulang dengan mesin fotocopy biasa. Atau juga langsung dengan metode print  fotokopy, artinya print yang dibuat mencetak hasil menggunakan mesin fotocopy langsung. Mengapa menggunakan mesin fotocopy atau mesin printer laser?. Karena jika menggunakan mesin-mesin tersebut  tinta yang digunakan menggunakan tinta toner atau tinta serbuk. Tinta ini mampu mengelupas jika dilakukan pemanasan atau pengelupasan menggunakan zat rekat seperti yang ada pada obat nyamuk merk Autan.
Alat atau hal-hal yang perlu dipersiapakn untuk membuat PCB sendiri adalah sebagai berikut:
  • Aplikasi CAD (Eagel,Diptrace, atau Orcad)
//Disini saya menggunakan Aplikasi Orcad 9.2 bisa diunduh disini.
  • Kertas HVS
  • Papan PCB Fiber
//Harganya sekitar Rp. 18.000 ukuran 25×15  cm.
  • Gergaji besi
  • Obat nyamuk cair (ex: Autan)
  • Kuas ukuran kecil
  • Spidol permanent
//Saya pakai spidol snowman  silver permanent.
  • Pelarut Feryclorid
  • Bor PCB
//Saya memakai BOR PCB duduk merk Mollar buatan jerman.
  • Stainless serabut besik (Serabut untuk membersihkan wajan)
  • Sabun sunlight
  • Setrika listrik atau setrika arang.
  • Mika plastik tahan panas (ex: merk OHP).
Pertama adalah membuat layout lewat aplikasi CAD.
20160428_173419
Layout plus Orcad 9.2
Print hasil layout tersebut dengan kertas HVS biasa ukuran A4 atau F4 melalui mesin fotocopy (printcopy) atau menggunakan mesin printer laser. Tips gunakan fotocopy laser (ex: merk Fuji xerox).
20160521_113424
Print out menggunakan mesin fotocopy
Potong papan pcb sesuai ukuran layout yang dibuat menggunakan gergaji besi.
20160521_113432
PCB Fiber yang sudah dipotong menggunakan gergaji besi
Setelah itu bersihkan permukaan PCB dengan serabut stainless sampai bening dan dicuci dengan sabun sunlight sampai kesat. Lalu keringkan.
20160521_122613
PCB 
Tips: Jangan menggunakan amplas untuk membersihkan papan PCB. Jika permukaan papan PCB kurang datar maka setrika papan tersebut -+ 3 menit. Sampai permukaan terasa datar.
Tempelkan gambar layout ke papan PCB tersebut.
20160521_123019
Olesi diatasnya cairan obat nyamuk merk  autan yang sudah dicampur dengan air menggunakan kuas. Merata sampai basah semua.20160521_123414
Lalu letakkan mika plastik diatasnya. Kemudian kerok mika yang berada diatas kertas hasil layout yang sudah diolesi campuran obat nyamuk cair dengan air, menggunakan koin uang logam secara merata selama -+ 5 menit.
20160521_123423
Tips: Kerok dan tekan agak kuat agar layout dikertas dapat menempel. zat kimia perekat di Autan akan mampu menempelkan hasil sablon toner (serbuk printer) ke dalam lapisan tembaga tanpa menggunakan konduksi (hantaran) panas. namun biasanya ada  juga yang menggunakan setrika untuk menempelkan serbuk (toner), tetapi saya cukup menggunakan uang koin logam. Dan hasilnya cukup memuaskan. Biasanya juga penggunaan setrika untuk pemanasan PCB dapat merusak lapisan logam setrika itu sendiri.
Setelah selesai dan dirasa cukup kelupas perlahan kertas. Lihat hasilnya.
20160521_133133
Jangan langsung dilarutkan ke proses etching (pelarutan) namun tunggu sampai kering jalur-jalur serbuk tinta. Agar tidak mudah terkelupas. Tunggu -+ 3 jam. Sambil menunggu periksa kembali jalur rangkaian apabila ada yang putus, sambung kembali dengan spidol snowman silver permanen.
20160521_113509
Setelah itu, masukkan PCB kedalam wadah pelarut. Pelarut yang digunakan bisa menggunakan Ferrycloride atau H3. Tips: Gunakan larutan H3 jika ingin hasil cepat dan baik.
Setelah proses etching (pelarutan) selesai, bersihkan  PCB menggunakan air. Keringkan dan digosok kembali menggunakan serabut stainless untuk menghilangkan tinta toner.
Untuk proses pengeboran gunakan mata bor sesuia keinginan, biasanya 1mm, 0,8 dll. Tips: gunakan bor duduk (ex: merek bor duduk mollar) jika ingin hasil bor bagus dan rapi tanpa merusak papan. Karena jika menggunakan bor tangan hasil tidak begitu rapi dan meninggalkan efek bekas lubangan yang kurang baik.
20160522_143206
Bor duduk buatan jerman merk mollar
jangan lupa melumasi dengan gondorukem cair biar awet kinclong…

Mambaca Komponen SMD

Cara Mudah Membaca Komponen SMD

Komponen Surface Mounting Devices atau yang biasa dikenal dengan komponen SMD merupakan komponen elektronika modern yang diproduksi menggunakan metode Surface Mounting Technology (SMT). Komponen SMD pertama kali dikembangkan pada tahun 1960-an dan mulai digunakan secara massal sejak tahun 1980-an hingga sekarang. Tujuan awal pengembangan komponen SMD yaitu untuk menggantikan teknologi through-hole yang dianggap boros tempat dan kurang efisien. Dengan hadirnya teknologi SMT, produsen dapat memangkas ukuran komponen SMD berkali-kali lipat lebih kecil dibanding komponen through-hole, namun dengan performa yang sama layaknya komponen through-hole.
Gambar 1.0 Komponen SMD
Komponen - komponen elektronika yang mengadopsi tipe mounting SMD umumnya berupa resistor, kapasitor, induktor, IC, transistor, LED, dan beberapa komponen elektronika lainnya. Untuk menginformasikan nilai komponen SMD, produsen menggunakan kode - kode khusus yang biasanya dicetak pada permukaan atas komponen.
Apakah arti dari kode - kode tersebut? Dan bagaimana cara membacanya? Mari kita bahas satu per satu.

Cara Membaca Komponen SMD

1. Resistor
Secara garis besar, pengkodean resistor SMD dibagi menjadi 3 kategori, sistem tiga digit, sistem empat digit, serta sistem EIA-96. Berikut penjelasan dari masing-masing sistem pengkodean tersebut.
  • 1.1 Sistem Tiga Digit 
    Gambar 1.1 Sistem Pengkodean Tiga Digit
    Pada sistem ini terdapat 3 digit angka yang berfungsi untuk mendeklarasikan nilai komponen SMD. Angka pertama dan kedua merupakan bilangan numerik yang menunjukan nilai resistansi sedangkan angka ketiga berfungsi sebagai faktor pengali perpangkatan dari bilangan 10. Berikut ini adalah beberapa contoh pembacaan nilai resistansi dari sistem pengkodean 3 digit.
    Contoh:
    1. 101 === 10 Ω x 101 = 100 Ω
    2. 203 === 20 Ω x 103 = 20.000 Ω / 20 KΩ
    3. 120 === 12 Ω x 100 = 12 Ω
    4. 472 === 47 Ω x 102 = 4.700 Ω / 47 KΩ
    5. 335 === 33 Ω x 105 = 3.300.000 Ω / 3.3 MΩ
    Untuk nilai resistansi yang lebih kecil dari 10 Ω biasanya ditulis dengan menambahkan huruf “R”. Huruf “R” mengindikasikan letak poin desimal pada nilai resistansi. Misalnya suatu resistor memiliki kode 4R7, itu berarti resistor ini memiliki nilai resistansi sebesar 4.7 Ω, reistor memiliki kode R05, berarti resistor memiliki nilai resistansi 0.05 Ω, dan seterusnya.
  • 1.2 Sistem Empat Digit 
    Gambar 1.2 Sistem Pengkodean Empat Digit
    Sistem ini memiliki mekanisme penghitungan yang sama persis dengan sistem tiga digit, bedanya hanya terletak pada jumlah digit di depan faktor pengali. Berikut ini contoh pembacaan nilai resistansi dengan sistem pengkodean empat digit.
    Contoh:
    1. 1002 === 100 Ω x 102 = 10.000 Ω / 10 KΩ
    2. 2700 === 270 Ω x 100 = 270 Ω
    3. 1473 === 147 Ω x 103 = 147.000 Ω / 147 KΩ
    4. 2204 === 220 Ω x 104 = 2.200.000 Ω / 2.2 MΩ
    5. 3201 === 320 Ω x 101 = 3.200 Ω / 3.2 KΩ
    Sama halnya dengan sistem pengkodean tiga digit, untuk resistor dengan nilai resistansi kecil biasanya disisipi huruf “R”. Misalnya sebuah resistor memiliki kode 3R70, berarti resistor tersebut memiliki nilai resistansi sebesar 3.70 Ω, 0R20 berarti 0.20 Ω, 6R01 berarti 6.01 Ω, dan seterusnya.
  • 1.3 Sistem EIA-96 
    Sistem pengkodean EIA-96 terdiri dari tiga digit kombinasi huruf dan angka. Dua digit angka di depan menunjukkan nilai resistansi sedangkan sebuah huruf di belakang menunjukkan faktor pengali. Pengkodean Jenis ini khusus digunakan untuk menandai resistor dengan nilai toleransi 1%. Berikut cara membacanya.
    KodeNilaiKodeNilaiKodeNilai
    01100Ω33215Ω65464Ω
    02102Ω34221Ω66475Ω
    03105Ω35226Ω67487Ω
    04107Ω36232Ω68499Ω
    05110Ω37237Ω69511Ω
    06113Ω38243Ω70523Ω
    07115Ω39249Ω71536Ω
    08118Ω40255Ω72549Ω
    09121Ω41261Ω73562Ω
    10124Ω42267Ω74576Ω
    11127Ω43274Ω75590Ω
    12130Ω44280Ω76604Ω
    13133Ω45287Ω77619Ω
    14137Ω46294Ω78634Ω
    15140Ω47301Ω79649Ω
    16143Ω48309Ω80665Ω
    17147Ω49316Ω81681Ω
    18150Ω50324Ω82698Ω
    19154Ω51332Ω83715Ω
    20158Ω52340Ω84732Ω
    21162Ω53348Ω85750Ω
    22165Ω54357Ω86768Ω
    23169Ω55365Ω87787Ω
    24174Ω56374Ω88806Ω
    25178Ω57383Ω89825Ω
    26182Ω58392Ω90845Ω
    27187Ω59402Ω91866Ω
    28191Ω60412Ω92887Ω
    29196Ω61422Ω93909Ω
    30200Ω62432Ω94931Ω
    31205Ω53442Ω95953Ω
    32210Ω64453Ω96976Ω
    Tabel 1 Tabel Nilai Resistansi EIA-96
    KodeFaktor PengaliKodeFaktor Pengali
    Z0.001C100
    Y/R0.01D10.00
    X/S0.1E10.000
    A1F100.000
    B/H10  
    Tabel 2 Tabel Faktor Pengali EIA-96
    Contoh:
    1. 09A === 121 Ω x 1 = 121 Ω ± 1%
    2. 78C === 634 Ω x 100 = 63.400 Ω / 63.4 KΩ ± 1%
    3. 40Y === 255 Ω x 0.01 = 2.55 Ω ± 1%
    4. 17A === 147 Ω x 1 = 147 Ω ± 1%
    5. 30Z === 200 Ω x 0.001 = 0.2 Ω ± 1%
2. Kapasitor Keramik
Gambar 2.0 Sistem Pengkodean Empat Digit
Sebagian besar kapasitor keramik SMD yang beredar di pasaran umumnya tidak dilengkapi kode tercetak untuk menandakan nilai kapasitansinya. Namun terkadang ada beberapa produsen yang menyertakan kode tersebut pada permukaan atas komponen. Jika Anda menemukan kode tersebut, berikut cara membacanya.
KodeNilai (pF)KodeNilai (pF)KodeNilai (pF)
A1.0M3.0Y8.2
B1.1N3.3Z9.1
C1.2P3.6a2.5
D1.3Q3.9b3.5
E1.5R4.3d4.0
F1.6S4.7e4.5
G1.8T5.1f5.0
H2.0U5.6m6.0
J2.2V6.2n7.0
K2.4W6.8t8.0
L2.7X7.5y9.0
Tabel 3 Kode Nilai Kapasitansi Kapasitor SMD
Contoh:
  1. E4 === 1.5 pF x 104 = 15.000 pF / 15 nF
  2. S2 === 4.7 pF x 102 = 470 pF
  3. R5 === 4.3 pF x 105 = 430.000 pF / 430 nF
  4. KG3 === 1.8 pF x 103 = 1.800 pF / 1.8 nF (diproduksi oleh pabrik berinisial “K”)
  5. AT1 === 5.1 pF x 101 = 51 pF (diproduksi oleh pabrik berinisial “A”)
3. Kapasitor Elektrolit
Gambar 3.0 Pengkodean Kapasitor Elektrolit
Secara umum nilai kapasitansi dari suatu kapasitor elektrolit dicetak dengan menggunakan kombinasi satu digit huruf dan tiga digit angka. Berikut cara membaca nilai kapasitansi dari kapasitor SMD.
KodeTeganganKodeTegangan
e2.5 VD20 V
G4 VE25 V
J6.3 VV35V
A10 VH50 V
C16 V  
Tabel 4 Tabel Kode Tegangan Kapasitor Elektrolit
Contoh:
  1. E572 === 57 pF x 102 = 5.700 pF / 5.7 nF @ 25 V
  2. C475 === 47 pF x 105 = 4.700.000 pF / 4.7 µF @ 16 V
  3. H103 === 10 pF x 103 = 10.000 pF / 10 nF @ 50 V
  4. A204 === 20 pF x 104 = 200.000 pF / 200 nF
  5. D211 === 21 pF x 101 = 210 pF
4. Induktor
Untuk menandakan nilai induktansi, produsen biasanya mencetak tiga digit kode khusus pada permukaan atas induktor SMD. Berikut ini cara membaca kode pada induktor SMD.
Gambar 4.0 Pengkodean Induktor SMD
Contoh:
  1. 101 ===10 µH x 101 = 100 µH
  2. 465 === 46 µH x 105 = 4.600.000 µH / 4.6 H
  3. 273 === 27 µH x 106 = 27.000 µH / 27 mH
  4. 3R3 === 3.3 µH (huruf “R” menunjukkan letak poin desimal)
  5. 4R7 === 4.7 µH (huruf “R” menunjukkan letak poin desimal)
Nah.. Bagaimana teman-teman? Membaca nilai komponen SMD ternyata bukan suatu hal yang sulit bukan??
Jangan bosan-bosan belajar elektronika ya.. ^_^
Sampai jumpa di artikel berikutnya..